Si pemabuk

   Sudah kesekian kalinya perihal konyol ini terjadi. Sekali, duakali, tigakali. Mata yang berat menggantung, nafas yang tersengah membangun percakapan yang bising, aroma mulut yang cukup pekat, dan kondisi tubuh yang berpasai-pasai dan terkapar di alaskan pasir yang menyisahkan aroma air kemih binatang-binatang liar.

       Gadis itu berubah jadi melankolis dan sedikit pasif, abai dengan lingkungan sekitar, berbanding terbalik dengan karakternya sehari" yang dimna ia adalah orang yang ramah, responsif, segala yang if if. 


       Aku cemburu dengannya, bukan sebab ia menjalin relasi yang erat dengan gadis lain, melainkan ia tidak punya pengelakan apapun karena hasratnya dengan minuman itu, aku benci, tapi entah kenapa jiwa patriarkiku seakan membisik untuk tidak memberi pembatasan padanya. Aku tetap salah di matanya, sebab kekasihku buta.

   ku jadikan ia  ruang letakku ketika bermuram durja, ketika kesal dengan awak keluarga, tapi mengapa saat itu seketika rumahku hilang dan yang kurasa hanya amarah yang terpasung. Iya... aku memang tidak setabah gadis lainnya dan maaf untuk kesenjanganku itu.


      Tuhan... atas diriku yang dungu dan kotor ini,  untuk cinta dan kedamaian, seyogyanya aku sangat malu menghadapmu hanya membawa diri yang kosong dan seemberq air mata. Aku meminta juluran tanganmu untuk.......



02.49 minggu/05/feb/23

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebetulan hujan

Hantu-hantu bergentayangan di kampus!!!

Sejenak Di Bangku Pojok